Merenungi Hujan
Hujan gerimis masih saja terus mengguyur Bogor sepagi ini. Dari malam tadi malah. Seolah tak peduli dengan jeritan kekesalan dan ocehan gerutu dari orang – orang yang merasa dirugikan dengan kehadirannya. Menjerit karena rumah mereka menjadi habis terendam dan seolah mengapung dalam lautan kepongahan sang air yg dibawa hujan. Ocehan gerutu, yang mungkin ini adalah level kecil dari luapan amarah, yang keluar dari mulut – mulut yang menjadi terkungkung dan merasa tak bisa bergerak dan maksimal berjalan memulai hari.+
Ahh..hujan memang kadang menjadi pongah dan tak beradab, dan tak berperasaan, itu rutuk hatiku yang hitam. “Tapi hujanpun membawa berkah kan? Bahkan dengan hujan banyak maksiat yang urung dilaksanakan” Komentar hatiku yang malaikat masih senang untuk menjaganya.
Kembali aku terpuruk oleh pilihan yang tak kunjung kupilih. AKankah kuhadapi hujan atau menunggu hujan habiskan pilihannya sendiri?

Leave a Reply