Merenungi Hujan

Hujan gerimis masih saja terus mengguyur Bogor sepagi ini. Dari malam tadi malah. Seolah tak peduli dengan jeritan kekesalan dan ocehan gerutu dari orang – orang yang merasa dirugikan dengan kehadirannya. Menjerit karena rumah mereka menjadi habis terendam dan seolah mengapung dalam lautan kepongahan sang air yg dibawa hujan. Ocehan gerutu, yang mungkin ini adalah level kecil dari luapan amarah, yang keluar dari mulut – mulut yang menjadi terkungkung dan merasa tak bisa bergerak dan maksimal berjalan memulai hari.
Ahh..hujan memang kadang menjadi pongah dan tak beradab, tapi who cares?!! Allah pasti selalu punya rencana indah dengan segala yang ditimpakannya. Pun termasuk hujan yang membuat “susah” beberapa gelintir orang.

Di sisi lain, tak sedikit orang yang merasa “diberkahi” dan diuntungkan dengan adanya hujan dan akibat yang ditimbulkannya. Tengoklah keceriaan anak- anak yang menawarkan jasa ojek payung, orang – orang yang menawarkan jasa angkut ketika banjir ataupun tukang angkot yang merasa kelimpahan penumpang ketika orang berebut naik menghindari hujan. Karena hujan, kemudian mereka menimba hasil, yang untuk ukuran mereka, mungkin menjadi rezeki yang berlebih, yang dengannya, seolah olah hidup mereka merasa tersambung kembali, menjadi lebih merasa untuk hidup walaupun mungkin setelah itu, ketika hujan berhenti, hidup mereka kembali kerontang dan mencari air kehidupan yang lain.

Aku, aku merasa menjadi orang yang diuntungkan ketika hujan. Jam 03.30, ketika pertamakali aku bangun, aku rasakan hujan. Mmmh.. hujan yang menambah kemalasan dan mencumbuku untuk selalu bergumul dengan hangatnya istriku tempat tidur. Tapi aku harus bangun!!. Sudah terlambat 1/2 jam dari janjiku bertemu dengan sang Kekasih yang jauh lebih aku kasihi daripada kekasihku saat ini. Ya, janji untuk bercinta denganNYA dan bercumbu dengan segala kenikmatan keberduaanku. Alhamdulillah ya Rabbi, Kau perkenankanku untuk menemuimu. Allahu ya Rahhim, Engkau memang maha pengasih. Aku merasa diuntungkan karena hujan. Dengan adanya hujan dan semakin beratnya tantangan untuk melaksanakan percintaan ini, aku yakin kekasihku akan semakin menghargaiku dan akan memberikanku yang lebih. Ya, aku yakin, karena Dia maha Bijaksana dan Maha Membalas.

Rabbi, aku bersimpuh dihadapanmu dalam hujan yang terus menemani dan menghantarku dalam larut yang tak bertepi. Larut dalam khidmat nikmat dialog ku denganNYA…

~ by deckie on 19 February, 2008.

2 Responses to “Merenungi Hujan”

  1. karena dalam hujan juga terdapat rahmat, mas decky. lam kenal🙂

  2. Mas imung mohon maaf saya baru balas commentnya ..salam kenal juga🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: